Profesi


mendengar kata profesi kita jadi mengingat tentang pekerjaan kita, kenapa di katakan demikian karena seseorang yang memiliki pekerjaan itu pasti dalam suatu profesi bukan profesi seseorang di miliki dalam suatu pekerjaan. Dalam berprofesi kita selayaknya berlaku jujur serta penuh dengan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Dalam islam di atur etika berprofesi agar kita semakin tahu mengenai apa yang boleh dan tidak di lakukan, sebagai contoh : perkembangan teknologi membuat kita semakin rentan terhadap tindak kejahatan. Hal ini justru membuat kita lebih memilih prevententif dalam memilih profesi, agar kita tidak terjelembab ke dalam dunia kejahatan tersebut. Banyak sekali profesi yang rentan terhadap dunia kejahatan salah satunya programmer, dan admin jaringan. Kenapa dikatakan demikian, karena sekarang sudah zaman serba online, si programmer bisa saja membuat aplikasi untuk penipuan, dan virus untuk mengambil data – data korban. Lantas untuk admin jaringan dia bisa mengcapture paket data dalam jaringan sehingga transaksi kita di jaringan bisa diketahui.

Oleh sebab itu maka di rancang sebuah kode etik untuk mengatur akhlak, sikap, dan perilaku para pengguna

Jemput bola dimanapun dia berada


” jemput bola “, mendengar istilah ini kita sudah tidak asing lagi. Dalam istilah sepak bola jemput bola mempunyai arti dalam main bola kita tidak boleh menunggu. Sehingga kesempatan atau peluang yang tercipta dapat membuahkan hasil cemerlang.  Istilah ini kemudian berkembang di dunia marketing, dan apa sebenarnya makna dari “Jemput Bola” dalam berbisnis atau berdagang?
Jemput = Mendatangi, Mencari
Bola = Customer, Pelanggan
Jemput Bola = Mendatangi/ Mencari Pelanggan.

Ada sebuah contoh, seorang pedagang es potong akan berkeliling kampung / perumahan untuk menjajakan es potongnya sambil berteriak “Eees Eees!” atau memukul bel “Tiing Tiing!”. Yap, ini bisa disebut seorang penjual es sedang melakukan aksi “Jemput Bola”, karena tukang es itu melakukan aksi mendatangi/ mencari pelanggan.

Sebuah contoh lagi, seorang tukang pijat urat yang buta menyuruh orang untuk memasang spanduk bertuliskan “Tunanetra Ahli Pijat Urat Berijazah!” apakah tindakan seperti ini dapat disebut “Jemput Bola”? Padahal tukan pijat itu tidak melakukan aksi mendatangi/ mencari pelanggan?

Mari kita kembali ke pertanyaan pada awal posting ini “mendatangi customer, atau customer yang mendatangi kita?”

Sebenarnya, sudah bisa dikatakan kita telah melakukan aksi “Jemput Bola” apabila customer/ pelanggan telah mendatangi warung, toko, atau website kita. Mengapa begitu? Karena maksud dan tujuan dari aksi “Jemput Bola” adalah Mendatangkan Pelanggan.

Apapun cara dan jalannya, asal pelanggan datang ke tempat kita berjualan, berarti kita berhasil “Menjemput Bola”, bahkan lebih dari itu, kita berhasil “Mendatangkan Bola”. Justru “Jemput Bola” dapat dikatakan SUKSES bila cara yang ditempuh EFEKTIF, EFISIEN, dan Menghasilkan Banyak BOLA.

Sehingga disini kita dapat menyimpulkan, arti dari “Jemput Bola” adalah Mendatangi/ Mencari Pelanggan (dengan cara apapun yang efektif tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga) . Dalam bisnis online, kita bisa menjemput bola dengan cara sering-sering promosi di situs-situs iklan baris gratis, serta banyak melakukan komentar pada blog rekan-rekan kita.

Cara mengetahui modus penipuan


Dalam pergaulan sehari-hari, tentu saja kita menginginkan kejujuran, tetapi untuk menjaga sebuah hubungan, baik pertemanan, persaudaraan, maupun asmara terkadang kebohongan bisa menjadi penyelamat. Tetapi ada baiknya jika anda bisa membaca tanda-tanda kebohongan dari lawan bicara anda, dengan begitu anda dapat dengan mudah mendapatkan kebenaran.
Ini dia delapan tanda-tanda kebohongan yang dirangkum dari jurnal yang berjudulInstant Fact: How To Get The Truth Out of Anyone! John J. Webster
 
1. Tatapan Mata
Seseorang yang berbohong tidak akan melihat mata anda, pembohong akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak menatap anda.
2. Gerakan Tangan
Gerakan tangan seseorang yang berbohong akan tidak beraturan. Bahkan gerakan tangan akan terlihat seperti robot. Seseorang yang sering menyentuh hidung, tenggorokan, mulut dan menggaruk dibelakang telinga saat melakukan pembicaraan memiliki kemungkinan yang besar untuk berkata bohong.
3. Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah seseorang yang berbohong cenderung memiliki gap waktu antara apa yang dibicarakan dengan ekspresi wajahnya, Sebagai contoh “Saya sangat bersimpati atas apa yang terjadi dengan anda” terdiam sebentar lalu ekspresi wajah sedih. Hal ini karena kejujuran bersifat reflex, tetapi kebohongan cenderung berencana, karena itu kita akan melihat gap waktu antara pikiran dan gerakan tubuh.
4. Gerakan
Mulut Seseorang yang berbohong memiliki kecenderungan memperlihatkan emosi hanya sebatas disekitar mulut. Gerakan-gerakan tubuh akan terlihat minim dalam mengekspresikan emosi.

5. Gerakan Tubuh
Tubuh akan secara refleks menjauh dari lawan bicara ketika kita berbohong, disamping itu seseorang yang berbohong akan menghindari kontak tubuh dengan lawan bicaranya hal ini terjadi karena rasa bersalah yang timbul karena kebohongan terhadap lawan bicara.
6. Pembicaraan
Seseorang yang mengungkapkan kebohongan sangat tidak menyukai kebisuan, ia akan terus berusaha meyakinkan lawan bicara dengan kebohongan. Sekali ia berbohong maka semua pertanyaan yang diajukan (walau terkadang diluar logika) akan mampu dijawabnya. Hal ini berhubungan dengan pepatah “sekali anda berbohong, maka anda akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan anda”.
Disamping itu pembohong memiliki kecenderungan untuk mengindahkan peranan orang ketiga, seseorang yang jujur dapat dengan santai berkata, “anda boleh tidak percaya, tetapi mereka melihat kenyataan yang sesungguhnya”. Hal ini terjadi karena seseorang yang berbohong tidak ingin melibatkan pihak ketiga dalam rencananya.
7. Impresi
Nafas akan terlihat lebih berat, hal ini karena seseorang yang berbohong berusaha untuk menenangkan diri. Disamping itu ia akan mencoba membersihkan tenggorokannya dengan berdehem ini dikarenakan jika seseorang yang nervous akan secara tidak sadar menelan ludah, karena tingkat nervous yang tinggi, maka ia akan kesulitan menelan ludah.
8. Pengalihan Materi Pembicaraan
Saat anda menanyakan hal yang mencurigakan seseorang yang berbohong akan sangat tidak nyaman, maka ia akan berusaha sekuat mungkin untuk mengalihkan pembicaraan, topic yang biasanya dikemukakan adalah topic yang anda sukai.

Kewirausahaan


Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu.

Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

Untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki sifat-sifat dalam kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausaha adalah:

  • Percaya diri
  • Berorientasikan tugas dan hasil
  • Berani mengambil risiko
  • Kepemimpinan
  • Keorisinilan
  • Berorientasi ke masa depan
  • Jujur dan tekun

Sifat-sifat seorang wirausaha adalah:

  • Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  • Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
  • Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  • Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  • Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  • Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  • Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.

Tahap-tahap kewirausahaan

Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha:

Tahap memulai

Tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan ‘’franchising’’. Tahap ini juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri, atau jasa.

Tahap melaksanakan usaha

Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek: pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.

Tahap mempertahankan usaha

Tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

  • Tahap mengembangkan usaha

Tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha

Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:

  • Tidak kompeten dalam manajerial.

Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.

  • Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
  • Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran kas menyebabkan operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
  • Gagal dalam perencanaan.

Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.

  • Lokasi yang kurang memadai.

Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.

  • Kurangnya pengawasan peralatan.

Pengawasan erat berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.

  • Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha.

Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.

  • Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

Peran Wirausaha Dalam Perekonomian Nasional

Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.

Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.

Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:

  • Menciptakan lapangan kerja
  • Mengurangi pengangguran
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
  • Meningkatkan produktivitas nasional

Etika Dalam Periklanan


Untuk membuat konsumen tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang: semua usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral maupun bisnis.

Etika

Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (KBBI)

Ciri-ciri iklan yang baik

  • Etis: berkaitan dengan kepantasan.
  • Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya, kapan harus ditayangkan?).
  • Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.

Contoh Penerapan Etika

  • Iklan rokok: Tidak menampakkan secara eksplisit orang merokok.
  • Iklan pembalut wanita: Tidak memperlihatkan secara realistis dengan memperlihatkan daerah kepribadian wanita tersebut
  • Iklan sabun mandi: Tidak dengan memperlihatkan orang mandi secara utuh.

ETIKA SECARA UMUM

  • Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
  • Tidak memicu konflik SARA
  • Tidak mengandung pornografi
  • Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
  • Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
  • Tidak plagiat

ETIKA PARIWARA INDONESIA (EPI)
(Disepakati Organisasi Periklanan dan Media Massa, 2005). Berikut ini kutipan beberapa etika periklanan yang terdapat dalam kitab EPI.

Tata Krama Isi Iklan

1. Hak Cipta: Penggunaan materi yang bukan milik sendiri, harus atas ijin tertulis dari pemilik atau pemegang merek yang sah.

2. Bahasa: (a) Iklan harus disajikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh khalayak sasarannya, dan tidak menggunakan persandian (enkripsi) yang dapat menimbulkan penafsiran selain dari yang dimaksudkan oleh perancang pesan iklan tersebut. (b) Tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti “paling”, “nomor satu”, ”top”, atau kata-kata berawalan “ter“. (c) Penggunaan kata ”100%”, ”murni”, ”asli” untuk menyatakan sesuatu kandungan harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik. (d) Penggunaan kata ”halal” dalam iklan hanya dapat dilakukan oleh produk-produk yang sudah memperoleh sertifikat resmi dari Majelis Ulama Indonesia, atau lembaga yang berwenang.

3. Tanda Asteris (*): (a) Tanda asteris tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan, menyesatkan, membingungkan atau membohongi khalayak tentang kualitas, kinerja, atau harga sebenarnya dari produk yang diiklankan, ataupun tentang ketidaktersediaan sesuatu produk. (b) Tanda asteris hanya boleh digunakan untuk memberi penjelasan lebih rinci atau sumber dari sesuatu pernyataan yang bertanda tersebut.

4. Penggunaan Kata ”Satu-satunya”: Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata “satusatunya” atau yang bermakna sama, tanpa secara khas menyebutkan dalam hal apa produk tersebut menjadi yang satu-satunya dan hal tersebut harus dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan.

5. Pemakaian Kata “Gratis”: Kata “gratis” atau kata lain yang bermakna sama tidak boleh dicantumkan dalam iklan, bila ternyata konsumen harus membayar biaya lain. Biaya pengiriman yang dikenakan kepada konsumen juga harus dicantumkan dengan jelas.

6. Pencantum Harga: Jika harga sesuatu produk dicantumkan dalam iklan, maka ia harus ditampakkan dengan jelas, sehingga konsumen mengetahui apa yang akan diperolehnya dengan harga tersebut.

7. Garansi: Jika suatu iklan mencantumkan garansi atau jaminan atas mutu suatu produk, maka dasar-dasar jaminannya harus dapat dipertanggung- jawabkan.

8. Janji Pengembalian Uang (warranty): (a) Syarat-syarat pengembalian uang tersebut harus dinyatakan secara jelas dan lengkap, antara lain jenis kerusakan atau kekurangan yang dijamin, dan jangka waktu berlakunya pengembalian uang. (b) Pengiklan wajib mengembalikan uang konsumen sesuai janji yang telah diiklankannya.

9. Rasa Takut dan Takhayul: Iklan tidak boleh menimbulkan atau mempermainkan rasa takut, maupun memanfaatkan kepercayaan orang terhadap takhayul, kecuali untuk tujuan positif.

10. Kekerasan: Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung -menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan.

11. Keselamatan: Iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengabaikan segi-segi keselamatan, utamanya jika ia tidak berkaitan dengan produk yang diiklankan.

12. Perlindungan Hak-hak Pribadi: Iklan tidak boleh menampilkan atau melibatkan seseorang tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari yang bersangkutan, kecuali dalam penampilan yang bersifat massal, atau sekadar sebagai latar, sepanjang penampilan tersebut tidak merugikan yang bersangkutan.

13. Hiperbolisasi: Boleh dilakukan ia agar semata-mata dimaksudkan sebagai penarik perhatian atau humor yang secara sangat jelas berlebihan atau tidak masuk akal, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dari khalayak yang disasarnya.

14. Waktu Tenggang (elapse time): Iklan yang menampilkan adegan hasil atau efek dari penggunaan produk dalam jangka waktu tertentu, harus jelas mengungkapkan memadainya rentang waktu tersebut.

15. Penampilan Pangan: Iklan tidak boleh menampilkan penyia-nyiaan, pemborosan, atau perlakuan yang tidak pantas lain terhadap makanan atau minuman.

16. Penampilan Uang: (a) Penampilan dan perlakuan terhadap uang dalam iklan haruslah sesuai dengan norma-norma kepatutan, dalam pengertian tidak mengesankan pemujaan ataupun pelecehan yang berlebihan. (b) Iklan tidak boleh menampilkan uang sedemikian rupa sehingga merangsang orang untuk memperolehnya dengan cara-cara yang tidak sah. (c) Iklan pada media cetak tidak boleh menampilkan uang dalam format frontal dan skala 1:1, berwarna ataupun hitam-putih. (d) Penampilan uang pada media visual harus disertai dengan tanda “specimen” yang dapat terlihat Jelas.

17. Kesaksian Konsumen (testimony): (a) Pemberian kesaksian hanya dapat dilakukan atas nama perorangan, bukan mewakili lembaga, kelompok, golongan, atau masyarakat luas. (b) Kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami, tanpa maksud untuk melebih-lebihkannya. (c) Kesaksian konsumen harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditanda tangani oleh konsumen tersebut. (d) Identitas dan alamat pemberi kesaksian jika diminta oleh lembaga penegak etika, harus dapat diberikan secara lengkap. Pemberi kesaksian pun harus dapat dihubungi pada hari dan jam kantor biasa.

18. Anjuran (endorsement): (a) Pernyataan, klaim atau janji yang diberikan harus terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh penganjur. (b) Pemberian anjuran hanya dapat dilakukan oleh individu, tidak diperbolehkan mewakili lembaga, kelompok, golongan, atau masyarakat luas.

19. Perbandingan: (a) Perbandingan langsung dapat dilakukan, namun hanya terhadap aspek-aspek teknis produk, dan dengan kriteria yang tepat sama. (b) Jika perbandingan langsung menampilkan data riset, maka metodologi, sumber dan waktu penelitiannya harus diungkapkan secara jelas. Pengggunaan data riset tersebut harus sudah memperoleh persetujuan atau verifikasi dari organisasi penyelenggara riset tersebut. (c) Perbandingan tak langsung harus didasarkan pada kriteria yang tidak menyesatkan khalayak.

20. Perbandingan Harga: Hanya dapat dilakukan terhadap efisiensi dan kemanfaatan penggunaan produk, dan harus diserta dengan penjelasan atau penalaran yang memadai.

21. Merendahkan: Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung.

22. Peniruan: (a)  Iklan tidak boleh dengan sengaja meniru iklan produk pesaing sedemikian rupa sehingga dapat merendahkan produk pesaing, ataupun menyesatkan atau membingungkan khalayak. Peniruan tersebut meliputi baik ide dasar, konsep atau alur cerita, setting, komposisi musik maupun eksekusi. Dalam pengertian eksekusi termasuk model, kemasan, bentuk merek, logo, judul atau subjudul, slogan, komposisi huruf dan gambar, komposisi musik baik melodi maupun lirik, ikon atau atribut khas lain, dan properti. (b) Iklan tidak boleh meniru ikon atau atribut khas yang telah lebih dulu digunakan oleh sesuatu iklan produk pesaing dan masih digunakan hingga kurun dua tahun terakhir.

23. Istilah Ilmiah dan Statistik: Iklan tidak boleh menyalahgunakan istilah-istilah ilmiah dan statistik untuk menyesatkan khalayak, atau menciptakan kesan yang berlebihan.

24. Ketiadaan Produk: Iklan hanya boleh dimediakan jika telah ada kepastian tentang tersedianya produk yang diiklankan tersebut.

25. Ketaktersediaan Hadiah: Iklan tidak boleh menyatakan “selama persediaan masih ada” atau kata-kata lain yang bermakna sama.

26. Pornografi dan Pornoaksi: Iklan tidak boleh mengeksploitasi erotisme atau seksualitas dengan cara apa pun, dan untuk tujuan atau alasan apa pun.

27. Khalayak Anak-anak: (a) Iklan yang ditujukan kepada khalayak anakanak tidak boleh menampilkan hal-hal yang dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka, memanfaatkan kemudahpercayaan, kekurangpengalaman, atau kepolosan mereka. (b) Film iklan yang ditujukan kepada, atau tampil pada segmen waktu siaran khalayak anakanak dan menampilkan adegan kekerasan, aktivitas seksual, bahasa yang tidak pantas, dan atau dialog yang sulit wajib mencantumkan kata-kata “BimbinganOrangtua” atau simbol yang bermakna sama.

Selain mengatur Tata Krama Isi Iklan epi juga mengatur:

Tata Krama Ragam Iklan

Ex: Iklan minuman keras maupun gerainya hanya boleh disiarkan di media nonmassa; Iklan rokok tidak boleh dimuat pada media periklanan yang sasaran utama khalayaknya berusia di bawah 17 tahun; dll.

Tata Krama Pemeran Iklan

Ex: Iklan tidak boleh memperlihatkan anak-anak dalam adegan-adegan yang berbahaya ; Iklan tidak boleh melecehkan, mengeksploitasi, mengobyekkan, atau mengornamenkan perempuan sehingga memberi kesan yang merendahkan kodrat, harkat, dan martabat mereka; dll.

Tata Krama Wahana Iklan

Ex: Iklan untuk berlangganan apa pun melalui SMS harus juga mencantumkan cara untuk berhenti berlangganan secara jelas, mudah dan cepat; Iklan-iklan rokok dan produk khusus dewasa hanya boleh disiarkan mulai pukul 21.30 hingga pukul 05.00 waktu setempat, dll.

IKLAN “BUILD IN” DARI SUDUT PANDANG ETIKA

Kenapa dengan “Build-in”?

  • Kasus iklan “build-in” memang sangat menarik. Satu hal yang pasti, strategi ini memang membuat proses penanyangan iklan menjadi jauh lebih singkat karena tidak ada proses produksi iklan (cukup dalam bentuk teks/brief saja) dan segala “tetek-bengek” di belakangnya (persetujuan atas ide dan eksekusi iklan, lay-out/story- board, tes via FGD dlsb), tidak ada proses sensor (via LSF unt. iklan TV) bahkan tidak perlu melaporkan ke BPOM untuk produk obat-obatan yang sebenarnya diwajibkan untuk melaporkan iklan/kampanyenya terlebih dahulu.
  • Kondisi ‘singkat-mudah- murah’ ini justru wajib kita cermati dengan hati-hati sekali karena akan muncul peluang yang relatif jauh lebih besar untuk terjadinya pelanggaran- pelanggaran etika di sini. Kuncinya ada di tangan produser dari program-program TV/radio yg disponsori tsb.
  • Produser program harus memahami dengan benar etika beriklan dari suatu produk dan tidak semata-mata berorientasi finansial saja. Pihak produsen/pengiklan (dan media agencynya, bila brief untuk kampanye “build-in” ini datang darinya) juga harus benar-benar memahami apa saja resiko yang dihadapinya dgn melakukan proses ‘short-cut’ (dgn melakukan strategi “build-in” campaign) atas proses promosi produknya.

 

Kitab EPI sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan “build-in” khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik):

  • Prinsip yang digunakan adalah (sama dengan prinsip iklan advertorial pada media cetak); iklan harus dapat dibedakan dengan suatu berita atau isi program.
  • Secara etika, kalau suatu iklan ditayangkan dalam format adlibs, maka si penyiar/pembawa acara harus memberikan pengantar sebelumnya bahwa informasi yang akan dibacakan berikutnya adalah suatu iklan.
  • Dari sudut pandang EPI, suatu kampanye “build-in” suatu produk adalah sah-sah saja selama pemirsa/konsumen mendapatkan informasi yang jelas bahwa suatu bagian dari program tsb. adalah sponsor/kampanye dari suatu produk/jasa dan tidak dengan disengaja disamarkan dan/atau digabungkan dalam suatu program siaran.
  • Bila program itu berupa film (misalnya sinetron), untuk menghindari kesan “aneh” bila tiba2 aktor/aktrisnya harus mengatakan suatu dialog yg berhubungan dengan sponsorship tertentu, maka minimal dalam credit title di akhir film tsb. hal ini bisa dicantumkan.
  • Produk apapun juga yang menggunakan strategi berkampanye “build-in” seharusnya tetap mematuhi aturan/etika mengenai iklan produk/kategori produk tsb. Dalam kasus di atas, benar adanya bahwa untuk iklan obat-obatan (juga kosmetik dan produk-produk lainnya yang efeknya membutuhkan waktu tertentu), tidak diperkenankan memberikan kesan mempunyai dampak seketika.
  • Iklan/kampanye produk obat-obatan juga diwajibkan mencantumkan “warning”: Baca Aturan Pakai dst. selain juga diwajibkan mencantumkan nama produsennya. Dalam suatu kampanye “build-in” petunjuk dan informasi ini juga wajib diucapkan oleh penyiar/pembawa acara.
  • Bila produk yang akan ditampilkan dalam bentuk “build-in” itu adalah iklan rokok atau produk yg ditujukan khusus bagi individu dewasa (“intimate product”), maka dianjurkan agar pemunculan program tsb adalah di atas pk. 21.30. Produk rokok juga diwajibkan mencantumkan/ menyebutkan “warning” sesuai aturan pemerintah.

MENELAAH KASUS IKLAN BERMASALAH

  • Mahasiswa mencari contoh iklan bermasalah (satu mahasiswa satu iklan: dari media cetak sertakan copynya, bila dari televisi sebutkan iklan apa dan buat sinopsis iklannya).
  • Kemudian telaah/ komentari sesuai dengan materi etika periklanan (minimal satu halaman spasi satu)
  • Dikumpulkan pertemuan berikutnya.

Manajerial keuangan


Ekonomi manajerial (managerial economics) yaitu aplikasi (penerapan) teori ekonomi dan perangkat analisis ilmu keputusan untuk membahas bagaimana suatu organisasi dapat mencapai tujuan atau maksudnya dengan cara yang paling efisien.

Masalah Keputusan Manajemen
Teori Ekonomi :
v Mikroekonomi
v Makroekonomi

Ekonomi Manajerial :
Aplikasi teori ekonomi dan perangkat ilmu keputusan untuk memecahkan masalah keputusan manajerial
SOLUSI OPTIMUM
UNTUK MASALAH
KEPUTUSAN
Ilmu Keputusan :
v Matematika ekonomi
v Ekonometri (Statistika)

Ekonomi manajerial merujuk pada aplikasi teori ekonomi dan perangkat ilmu keputusan untuk menemukan solusi optimal dalam berbagai masalah kaputusan manajerial.

Keterkaitan Dengan Teori Ekonomi

Dalam teori ekonomi terdapat dua macam teori mikroekonomi dan makroekonomi. Mikroekonomi ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku ekonomis secara individual sebagai unit pengambil keputusan seperti ; konsumen individu, pemilik sumber daya, dan perusahaan bisnis didalam sistem perdagangan bebas. Sedangkan makroekonomi sebaliknya yaitu ilmu yang membahas output, konsumsi, pekerjaan, investasi, dan harga secara keseluruhan (agregat) di perekonomian. Teori ekonomi memprediksi dan menjelaskan prilaku ekonomi yang menjadi faktor penentu yang paling penting atas pengambilan keputusan.

Keterkaitan Dengan Ilmu Keputusan

Ilmu keputusan terdiri dari perangkat matematika ekonomi dan ekonometri (statistika) untuk membentuk dan mengestimasi model keputusan yang ditujukan untuk menentukan prilaku optimum perusahaan yaitu mencapai tujuannya dengan cara yang paling efisien.

Matematika ekonomi digunakan untuk memformulakan (menggambarkan dalam bentuk persamaan) model ekonomi yang dipostulatkan dalam teori ekonomi. Dan Ekonometri kemudian menerapkan peralatan ststistik (terutama analisis regresi)pada data sunia nyata untuk mengestimasi model yang dipostulatkan oleh teori ekonomi dan digunakan untuk peramalan (forecasting).

Sebagai contoh, teori ekonomi mempostulatkan bahwa kuantitas yang diminta (Q) untuk suatu komositas adalah fungsi yang tergantung pada harga komoditas tersebut (P), pendapatan konsumen (Y), dan harga komoditas lain yang berhubungan yaitu; komoditas komplementer (Pc), dan substitusi (Ps). Bila diasumsikan bahwa selera tidak berubah maka kita dapat mempostulatkan model formal matematika sebagai berikut.

Q = f(P, Y, Pc, Ps)

Dengan formula diatas kita dapat mengestimasi hubungan empirisnya (ekonometri) yang memungkinkan perusahaan untuk menentukan seberapa besar perubahan Q degan adanya perubahan dalam P, Y, Pc, dan Ps untuk meramalkan permintaan di masa yang akan datang untuk komoditas tersebut agar manajemen dapat mencapai maksud dan tujuan perusahaan (maksimasi laba) dengan cara yang paling efisien.

Keterkaitan Dengan Berbagai Area Fungsional Ilmu Administrasi Bisnis

Area fungsional administrasi bisnis meliputi; akuntansi, keuangan, pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan produksi. Jadi ekonomi manajerial merupakan pelajaran yang ruang lingkupnya luas yang menggabungkan teori ekonomi, ilmu pengambilan keputusan, dan area fungsional ilmu administrasi bisnis dan membahas bagaimana ketiga hal tersebut berinteraksi satu sama lain pada saat perusahaan berusaha mencapai tujuannya dengan cara yang paling efisien.

Proses yang terkait dengan semua pengambilan keputusan manajerial yaitu :

Menetapkan tujuan perusahaan atau organisasi.
Mendefinisikan masalah yang dihadapi untuk mencapai tujuan tersebut.
Mengidentifikasi berbagai solusi-solusi.
Memilih solusi terbaik dari berbagai solusi yang tersedia.
Megimplementasikan keputusan tersebut.

TEORI PERUSAHAAN
Beberapa Alasan Adanya Perusahaan Dan Fungsinya
Perusahaan adalah suatu organisasi yang mengkombinasikan dan mengorganisasikan berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memproduksi barang dan jasa untuk dijual. Perusahan ada untuk menghemat biaya transaksi (transaction cost). Perusahaan akan mencapai titik dimana biaya meyediakan pelayanan tambahan dari dalam perusahaan untuk membeli pelayanan ini dari perusahaan lain. Sedangkan fungsi perusahaan adalah untuk membeli sumber daya atau pun input berupa tenaga kerja, modal, dan bahan mentah untuk diubah menjadi barang jadi atau jasa yang akan dijual. Para pemilik sumber daya akan mendapat imbalan berupa balas jasa, bunga, dan sewa yang selanjutnya digunakan untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan. Hal ini disebut siklus aktivitas ekonomi (Circular Of Economics Activity).

Tujuan Dan Nilai Perusahaan
Maksud dan tujuan perusahan adalah memaksimumkan kekayaan atau nilai sekarang dari keuntungan perusahaan di masa akan datang (Present Value Of Profit The Firm). Keuntungan perusahaan dimasa depan harus didiskontokan ke masa sekarang karena nilai satu dollar keuntungan dimasa depan lebih kecil dari nilai satu dollar keuntungan saat ini.

Kendala – Kendala Dalam Operasi

Kendala membatasi besarnya kemungkinan atau kebebasan tindakan perusahaan dan membatasi nilai perusahaan sampai ke tingkat yang lebih rendah dibanding apabila tidak ada kendala. Beberapa kendala kendala yang dihadapi perusahaan sebagai berikut :

v Terbatasnya ketersediaan input-input penting, seperti : perekrutan tenaga ahli sebanyak mungkin dalam waktu singkat.
v Ketidakmampuan untuk memperoleh bahan mentah sebanyak yang diminta.
v Keterbatasan ruang pabrik, gudang, dan dana modal untuk suatu proyek atau keperluan tertentu.
v Hukum mengenai upah minimum, standar kesehatan dan keselamatan, standar emisi polusi, hukum dan peraturan yang melarang perusahaan melakukan praktik-praktik bisnis yang tidak jujur (kecurangan).

SIFAT DAN FUNGSI LABA

Laba Bisnis dan Laba ekonomi
Laba bisnis (business profit) adalah penerimaan perusahaan dikurangi dengan biaya eksplisit atau biaya akuntansi perusahaan. Biaya eksplisit ialah biaya yang benar-benar dikeluarkan dari kantong perusahaan untuk membeli atau menyewa input yang dibutuhkan dalam produksi (seperti; upah tenaga kerja, bunga atas modal, sewa tanah dan gedung, dan pengeluaran untuk membeli bahan baku).
Laba Bisnis = Penerimaan – (Upah, Bunga, Sewa, Bahan baku)
Sedangkan Laba Ekonomi (economic profit) adalah penerimaan perusahaan dikurangi dengan biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya implisit (biaya kesempatan) ialah nilai input yang dimiliki perusahaan dan digunakan untuk proses produksi .
Laba Ekonomi = Penerimaan – ( Biaya eksplisit + Biaya implisit)
Laba bisnis berguna untuk tujuan akuntansi dan pajak, sedangkan laba ekonomi berguna untuk mencapai keputusan investasi yang benar.

Sebagai contoh, misalkan suatu perusahaan melaporkan laba bisnis sebesar $30.000 selama setahun, tetapi pengusaha dapat memperoleh $35.000 dengan mengelola perusahaan lain dan $10.000 dengan meminjakan modalnya ke perusahaan lain dengan resiko yang sama. Untuk ekonom, pengusaha ini sebenarnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $15.000 karena dari laba bisnis sebesar $30.000 dia harus mengurangi biaya implisit atau biaya kesempatan $35.000 untuk upahnya dan $10.000 untuk modalnya. Jadi laba bisnis sebesar $30.000 berhubungan dengan kerugian ekonomi sebesar $15.000 setiap tahun.

Beberapa teori laba dalam berbagai industri sebagai berikut :
Teori Laba Dalam Menghadapi Resiko (Risk Bearing Theories Of Profit) yaitu semakin tinggi hasil atau laba yang diharapkan dalam suatu usaha maka semakin tinggi tingkat resiko yang harus dihadapi oleh usaha tersebut.
Teori Laba Karena Gesekan (Frictional Theory Of Profit). Teori ini menekankan bahwa laba timbul karena adanya gesekan atau gangguan dari keseimbangan jangka panjang.
Teori Laba Monopoli (Monopoly Theory Of Profit). Beberapa perusahaan dengan kekuasaan monopolidapat membatasi output dan mengenakan harga tinggi dibandimnhkan pada persaingan sempurna, dengan demikian menghasilkan laba.
Teori Laba Inovasi (Innovation Theory Of Profit). Laba ekonomi merupakan imbalan dari pengenalan inovasi yang berhasil.
Teori Laba Efisiensi Manajerial (Managerial Efficiency Theory Of Profit). Bila rata-rata perusahaan cenderung hany memperoleh hasil normal dari investasi jangka panjang, perusahaan yang lebih efisien dari rata-rata akan memperoleh hasil dan laba ekonomis di atas normal.

Fungsi Laba
Laba yang tinggi merupakan tanda bahwa konsumen menginginkan output industri yang kita hasilkan lebih banyak. Laba yang tinggi memberikan insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan output dan lebih banyak perusahaan yang akan masuk ke industri dalam jangka panjang. Sebaliknya laba yang rendah atau kerugian merupakan tanda bahwa konsumen menginginkan komoditas lebih sedikit atau metode produksi yang tidak efisien.

ETIKA BISNIS

Etika Bisnis (Bussines Ethics) adalah peraturan yang melarang perilaku bisnis manajer perusahaan, dan pekerja melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Hal ini dilakukan karena banyak perusahaan yang membuat dan memasarkan produk yang berbahaya bagi kesehatan, mempekerjakan tenaga kerja dibawah umur, mengakibatkan polusi atau kerusakan lingkungan. Kini sebagian besar perusahaan telah menetapkan kode etik prilaku untuk personal perusahaan agar para pekerja berbuat lebih baik dari yang diharuskan oleh hukum.
Etika bisnis dibuat dengan tujuan untuk menentukan sejelas mungkin prilaku yang dianggap perusahaan tidak etis dan meminta pegawainya untuk menghindarinya. Banyak perusahaan yang merubah struktur atau arsitektur perusahaan untuk mendorong pegawai berprilaku etis, berupa pemberian saham opsi kepada CEO yang dikaitkan dengan profitabilitas jangka panjang perusahaan daripada mengaitkannya dengan laba sekarang. Sekarang banyak perusahaan yang melakukan tindakan sosial seperti memberikan beasiswa kepada anak-anak kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan, memberikan bantuan pasca bencana, mencanangkan program pemeliharaan lingkungan, dan masih banyak lagi. Walaupun kadang hal ini menjadikan beban perusahaan semakin besar, tetapi hal ini akan memberikan respon atau tanggapan yang positif terhadap masyarakat dalam jangka panjang dan memperbaiki citra perusahaan.

KERANGKA KERJA INTERNASIONAL EKONOMI MANAJERIAL

Menjadi global telah menjadi strategi persaingan yang penting. Banyak perusahaan-perusahaan internasional yang membeli input dari luar negeri dan kemudian menjual produknya ke luar negeri, dan bahkan mendirikan pabrik di banyak negara. Sehingga perusahaan domestik menghadapi persaingan yang semakin besar dari perusahaan luar negeri. Perusahaan global harus menjaga keseimbangan antara fungsi sebagai suatu organisme global sambil menyesuaikan produknya dengan selera konsumen lokal (pasar lokal).
Para pemimpin perusahaan saat ini harus memiliki keahlian selain keahlian dasar tradisional yaitu di bidang akuntansi, pemasaran, dan keuangan. Para eksekutif bisnis global dituntut untuk bisa menjadi seorang visioner bukan hanya sebagai manajer semata, oleh karena itu ia harus memiliki beberapa hal berikut :
1. Mempunyai pandangan yang global, mengerti tentang sistem informasi dan teknologi.
2. Dapat mempergunakan kesempatan dalam perbedaan dan ahli dalam kerja tim, kreatif dan menunjukkan inisiatif, mampu memilah-milah berbagai pola dan kesempatan dalam kekacauan dan mempunyai kemampuan untuk menyatukan informasi ketimbang menganalisis saja.
3. Yang paling penting dia harus mempunyai keahlian yang tinggi dalam berhubungan dengan orang lain dan mampu berkomunikasi secara efektif.
4. Mempunyai kemampuan untuk mengkombinasikan berbagai keahlian yang berlainan untuk memecahkan masalah.
5. Harus dapat mengkombinasikan kerja keras dan pemahaman yang mendalam mengenai bisnis yang digelutinya dengan kemampuan memberi semangat kepada orang lain untuk bekerja keras agar visi atau tujuan tersebut menjadi kenyataan.
6. Mempunyai pemahaman yang mendalam terhadap masalah-masalah global dan berbagai aspek etika dalam keputusan bisnisnya.
Perusahaan yang ingin menjadi perusahaan global membutuhkan manajer yang jenius, produk yang inovatif, kekuatan keuangan (modal), jangkauan global dan ketaatan kapada pemegang saham.

EKONOMI MANAJERIAL DAN INTERNET
Internet merupakan tempat yang bagus untuk memulai mencari informasi tentang ekonomi majanerial. Sebagai contoh, anda dapat menemukan informasi tentang ekonomi makro dalam hal inflasi, pertumbuhan, dan pengangguran, juga informasi tentang ekonomi mikro tentang sektor tertentu, industri, dan perusahaan. Seluruh dunia secara cepat akan menjadi kesatuan jalur informasi supercepat (information super highway) lewat internet. Ini berarti individu, peneliti, perusahaan, dan konsumen dapat berhubungan dengan perpustakaan, sumber data, serta informasi pemasaran dan mendapatkan informasi yang luas yang tidak pernah merka dapatkan sebelumnya hanya dengan seujung jari mereka. Melalui internet perusahaan juga dapat memasarkan produk yang diproduksi yang dikenal dengan e-commerce.
Sejumlah petunjuk menyeluruh dan juga spesifik atau sebagai indeks informasi ekonomi tersedia di internet. Masing-masing akan mempunyi klasifikasi alamat internet tertentu yang dikenal dengan domain . Klasifikasi-klasifikasi ini adalah :
v “.com” untuk komersial.
v “.edu” untuk pendidikan.
v “.gov” untuk pemerintah.
v “.net” untuk penyedia layanan internet.
v “.org” untuk organisasi nirlaba.

Prosedur audit keuangan


Prosedur Dasar Audit Akuntansi Keuangan (Selangkah-Demi-Selangkah)

Bicara prosedur audit sudah pasti scope-nya sangat luas dan kompleks, tak akan cukup di tulis di media online. Tetapi secara garis besar, prosedur audit hanya terdiri dari 7 (tujuh) langkah saja. Di ruang terbatas ini saya akan perkenalkan prosedur dasar audit selangkah-demi-selangkah. Karena audit, saat ini, juga banyak dipakai di wilayah lain (termasuk di IT), maka judul tulisan ini menjadi: Prosedur Dasar Audit Akuntansi Keuangan (selangkah-demi-selangkah.)

Yang namanya perkenalan, sudah pasti tidak akan mendalam dan detail. Semata-mata hanya untuk pengenalan awal. Sedangkan detailnya, saya akan bahas di JAK secara bertahap. Idealnya, termasuk insights (tips and trick) dalam menjalankan proses audit yang sesungguhnya di lapangan.

Saya termasuk junior dan baru kemarin sore, masih ada banyak auditor kawakan di luar sana yang sudah kenyang makan asam-gram-nya auditing. Sebenarnya, sayapun ingin menimba pengetahuan dari mereka, sayang saya belum pernah menemukan media/blog yang khusus membahas tips-trick auditing yang sungguh-sungguh didedikasikan untuk membantu junior seperti saya.

Entah karena tidak ada yang memfasilitasi, atau karena para auditor tidak punya cukup waktu (yang ini saya ragu; banyak auditor yg sempat ngeblog soal gossip artis, politik, rajin update status di FB, nge-tweet di Twitter, dll). Atau karena pelit—takut ilmunya habis tercuri? Hahaha, mudah-mudahan tidak. Setahu saya ilmu tak akan habis hanya karena dibagi.

Entahlah. Yang jelas, setiap orang punya preference, dan saya menghomati itu. So, we will see what we can do :) Mudah-mudahan ada diantara senior yang sempat membaca JAK dan berkenan ikut sharing pengalaman mereka di sini (setidaknya via ruang komentar).

Kembali ke topic utama; prosedur dasar audit (selangkah-demi-selangkah). Sebelum itu, mengapa laporan keuangan perlu diaudit?

Mengapa Laporan Keuangan Perlu Diaudit?

Secara umum, laporan keuangan perlu diaudit supaya informasi keuangan yang disajikan di dalam laporan keuangan bersifat adil (fair) bagi semua pihak yang berkepentingan (manajemen, pemegang saham, pemerintah, dan kreditur). Kata ‘fair’ dalam hal ini maksudnya: akurat dan tidak bias (tidak disalah-interpretasikan), bapak/ibu dosen di kampus mungkin menggunakan istilah “tidak menyesatkan”.

Apa ukuran “akurat” dan “tidak bias” dalam hal ini?

  • Akurat – Nilai nominal (angka rupiah/dollar/dll) yang tercantum dalam catatan transaksi sesui dengan bukti transaksi, dan perhitungan-perhitungan matematis sudah benar.
  • Tidak bias – perlakuan akuntansi (pengukuran, pengakuan, penyajian laporan), termasuk metode/pendekatan/prinsip/asumsi/constraint, yang digunakan dalam proses akuntansi yang diterapkan, telah sesuai dengan PSAK.

Siapa yang memastikan laporan keuangan telah akurat dan tidak bias? Auditor independent. Mengapa auditor independent? Karena, IDEALNYA:

  • Auditor independent, melalui pelatihan khusus auditing, dianggap memiliki kompetensi yang cukup untuk melakukan tugas tersebut.
  • Auditor independent, dianggap mampu bersikap dan memberi pendapat yang tidak memihak (bahasa kerennya “obyektif”) mengenai isi laporan keuangan.

Sungguhkah auditor independent memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan tugasnya? Yup, secara teori dan konsep, meskipun tingkat kemampuan masing-masing auditor tidak sama.

Sungguhkah auditor independent mampu bersikap obyektif dalam bersikap dan memberi pendapat mengenai laporan keuangan yang diperiksa?

Apakah Opini Auditor Independent Benar-Benar Obyektif?

Khusus mengenai “obyektifitas” opini auditor independent, saya pernah di-check-mate oleh senior admin-nya JAK. Dia mengatakan:

Cerita darimana pendapat auditor independent obyektif? Yang namanya pendapat (opinion)—tentang apapun dan oleh siapapun, kan dikemukakan oleh subyek, ya sudah pasti mengandung unsur subyektifitas, dengan kadar yang mungkin berbeda-beda. Termasuk opini yang dikeluarkan oleh auditor, meskipun diberi embel-embel independent”.

Saya cuma bisa nyengir. Jika dipikir-pikir, argument yang dikemukakan kawan admin itu ada benarnya. Tapi, kantaran penasaran maka saya nekat memberi bantahan dengan mengatakan:

Buktinya kita (auditor independent) dipakai, artinya kan pengguna jasa percaya bahwa kita memang obyektif”.

Betul”, kawan admin senior menjawab lagi. “Dasar pertimbangan mengapa shareholders dan klien lainnya menggunakan auditor bukan karena mereka percaya auditor bisa obyektif seratus-persen, tapi karena mereka percaya auditor MASIH lebih obyektif jika dibandingkan dengan yang pembuat assersi (pembuat assersi = manjemen yang membuat laporan keuangan).”

Kepalang basah saya pikir. Saya belum mau menyerah, saya katakan, “Bukan hanya shareholders, Ditjen Pajak (DJP) pun percaya dengan hasil audit kita lho

Kawan admin itu ‘menyergap’ saya dengan pertanyaan, “Memangnya DJP tidak akan melakukan pemeriksaan (kepatuhan) terhadap laporan keuangan yang sudah diaudit oleh auditor independent? Setahuku tetap diperiksa—meskipun tidak seketika saat setor SPT.”

Melihat saya masih agak lama mikir, dia melanjutkan:

Gini aja deh. Mengapa hasil audit yang disampikan oleh auditor independent tidak disebut SURAT KEPUTUSAN atau KETETAPAN atau setidak-tidaknya PERNYATAAN, tetapi malah disebut OPINI?

Saya masih belum sempat menjawab dia sudah melanjutkan lagi:

Karena hasil audit tidak bersifat mengikat. Tidak bersifat mengikat karena auditor, ikatan akuntan, pembuat standard dan publik di lingkungan bisnis secara keseluruhan, menyadari akan adanya unsur relativitas dan uncertainties (ketidakpastian) di dalamnya. Sehingga, batasan OBYEKTIF dalam konteks ini hanya sebatas konvensi dan kesepakatan umum.”

Debat dengan senior yang satu itu memang repot. Ilmunya dia terlalu kompleks. Dan, pemikiran-pemikirannya tidak pernah linear, selalu lateral (berdimensi). Itu salah satu alasan yang membuat saya selalu betah ngobrol berlama-lama dengan dia. Lumayan untuk menambah cakrawala berpikir.

Pertanyaan selanjutnya: bagaimana seorang auditor menjalankan proses audit?

Langkah-Langkah Dalam Proses Audit

Seperti sudah saya kemukakan di awal tulisan, seorang auditor menjalankan proses audit melalui 7 (tujuh) tahapan atau langkah. Yaitu:

  • Langkah-1: Membuat Perencana Audit (Audit Planning)
  • Langkah-2: Mengumpulkan dan Mengevaluasi Informasi Sehubungan dengan Auditee dan Lingkungannya
  • Langkah-3: Memeriksa Risiko Salah-Saji Yang Bersifat Material
  • Langkah-4: Merancang Respon Audit dan Prosedur Audit Lanjutan
  • Langkah-5: Menjalankan Audit Lanjutan
  • Langkah-6: Mengkaji Dan Memeriksa Kembali Hasil (Temuan) Audit
  • Langkah-7: Mengkomunikasikan Hasil (Temuan) Audit

Selanjutnya kita bahas masing-masing langkah tersebut satu-per-satu.

Langkah-1: Membuat Perencanaan Audit (Audit Planning)

Perencanaan audit yang dikenal dengan istilah “audit planning” dimulai dengan mempelajari permintaan (‘pesanan’) dari klien. Berdasarka permintaan ini, auditor membuat rencana kerja audit.

Tingkat kepadatan aktivitas dan waktu yang dibutuhkan dalam fase ini, bervariasi—tergantung apakah auditee (perusahaan yang akan diaudit) baru pertamakalinya ditangani atau sudah kesekian kalinya; perusahaan auditee baru biasanya membutuhkan perencanaan yang lebih banyak, sehingga membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Dalam penyusunan rencana audit, ada beberapa faktor yang penting untuk dipertimbangkan oleh auditor, diantaranya:

1. Ekonomi – Secara teori, ada berbagai faktor ekonomi (lokal, nasional, dan internasional), terutama yang dianggap mempengaruhi situasi bidang usaha perusahaan auditee, yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan rencana audit. Namun dalam prakteknya sangat jarang dilakukan—kecuali untuk situasi yang sangat menghebohkan.

2. Bidang Usaha Perusahaan Auditee – Misalnya: bidang usaha perusahaan auditee adalah kontraktor, maka situasi umum bidang usaha perkontraktoran perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan rencana audit. Khusus faktor ini, auditor biasanya menggunakan pengalamannya di perusahaan-perusahaan lain yang sejenis.

3. Aktivitas Bisnis Perusahaan Auditee – Untuk perusahaan auditee baru, ini membutuhkan waktu yang relative lebih lama (dengan tingkat kepadatan aktivitas yang lebih tinggi) jika dibandingkan dengan perusahaan yang sudah pernah diaudit sebelumnya. Pemahaman mengenai aktivitas bisnis perusahaan auditee (khususnya auditee baru) diperoleh melalui berbagai aktivitas, antara lain:

  • Melakukan komunikasi (minta keterangan) dengan auditor sebelumnya, yang dikenal dengan istilah “predecessor auditor”; mengunjungi lokasi perusahaan (terutama dimana fasilitas dan aktivitas utama perusahaan berada);
  • Mempelajari laporan keuangan periode sebelumnya (sebelum dan setelah diaudit) dan laporan interim periode berjalan;
  • Mempelajari laporan auditor sebelumnya (jika sudah pernah diaudit);
  • Mempelajari laporan keuangan fiskal (termasuk SPT) periode sebelumnya;
  • Mempelajari laporan hasil audit pajak (jika sudah pernah diaudit); dan
  • Mempelajari laporan pajak bulanan jika ada.

Selain ketiga faktor utama di atas, auditor juga perlu meminta informasi (keterangan) dari manajemen perusahaan auditee guna memperoleh input yang lebih lengkap. Untuk auditee yang yang sudah pernah ditangani sebelumnya (sudah termasuk pelanggan), auditor biasanya hanya perlu berkomunikasi dengan pihak manajemen, kalau-kalau ada perubahan signifikan sehubungan dengan aktivitas bisnis auditee (misalnya: perubahan kepemilikan, manajemen, wilayah opersi yang diperluas, pengembangan produk baru, penggunaan sumber pembiayaan yang baru, dlsb). Pihak manajemen perusahaan biasanya diwakili oleh “komite audit” perusahaan auditee—yang terdiri dari dewan direksi, eksekutif, dan internal auditor.

Dengan berbagai informasi yang telah dihimpun dan dipelajari, auditor bisa membuat perencanaan audit yang lebih konkret untuk:

  • Meminta surat penugasan (engagement letter) dari klien
  • Menyusun team audit (auditor dan assistant) yang akan ditugaskan (menyangkut jumlah dan kompetensi/level auditor, biasanya managing partner langsung menunjuk nama)
  • Jadwal kerja audit (menyangkut waktu, lokasi, dan obyek yang akan diaudit dan siapa yang akan melaksanakan). Kecuali audit investigasi, ini biasanya disesuaikan dengan kebijakan operasional perusahaan, agar tidak menimbulkan polemic yang tidak perlu selama proses audit nantinya.
  • Budget audit (menyangkut total waktu dan perencanaan biaya yang diperlukan untuk melaksankan keseluruhan kegiatan audit).

Secara keseluruhan, bisa dibilang: disamping penentuan jadwal kerja, esensi audit planning adalah menentukan (dan penyusunan) strategy audit, yang akan diterapkan agar tujuan audit tercapai.

Langkah-2: Mengumpulkan dan Mengevaluasi Informasi Sehubungan dengan Auditee dan Lingkungannya

Mengumpulkan dan mengevaluasi informasi sehubungan dengan Auditee dan lingkungannya adalah aktivitas penting yang harus dilakukan oleh auditor untuk:

  • Mapping awal, sebelum melakukan pemeriksaan terhadap risiko salah-saji dalam laporan keuangan perusahaan auditee.
  • Merancang alur, waktu dan prosedur audit lebih lanjut
  • Membuat penilaian (judgment) awal, mengenai: materialitas, kesesuaian laporan keuangan auditee dengan prinsip-prinsip akuntansi, dan identifikasi awal mengenai wilayah yang memerlukan perlakuan audit khusus.

Fase kedua ini, diidentikan dengan apa yang disebut “Risk Assessment”—yang esensinya tiada lain adalah pemetaan kemungkinan adanya kesalahan dan penyimpangan (dalam obyek audit) lebih dini—sebelum risk assessment sesungguhnya dilakukan (di langkah berikutnya). Prosedur risk assessment di tahapan ini biasanya dilakukan dengan berbagai macam aktivitas, antara lain: meminta susunan kepemilikan perusahaan, susunan manajemen dan strukur organisasi secara keseluruhan, melakukan observasi dan inspeksi.

Melalui risk assessment procedure ini, auditor juga berusaha untuk memperoleh berbagai informasi sehubungan dengan: alur operasi perusahaan, kepemilikan, hubungannya dengan pemerintah, hubungan-hubungan istimewa dengan pihak tertentu, metode pembiayaan (debt/equity) jangka pendek dan panjang, misi dan visi perusahaan, strategi dan manajemen risiko yang diterapkan—yang menjadi dasar pijakan pihak manajemen perusahaan auditee dalam menilai kinerja keuangan perusahaan dan penyusunan sistim pengendalian internalnya.

Dengan melakuan itu semua, auditor bisa memperoleh gambaran awal mengenai asersi ( terdiri dari: saldo akun, kelompok transaksi dan disclosure) yang kemungkinan besar mengandungrisiko-salah-saji’ (material misstatement risk) tinggi.

ASPEK UTAMA, yang wajib masuk dalam petimbangan di tahap ini adalah aspek SISTIM PENGENDALIAN INTERN (Internal control) yang diterapkan di dalam perusahaan auditee.

Tentu. Tidak semua unsur dan aspek pengendalian internal control perusahaan auditee relevan dengan tujuan audit yang dilaksanakan. Pengendalian intern yang dianggap relevan oleh auditor adalah yang diperkirakan berpengaruh terhadap mampu-atau-tidaknya perusahaan auditee untuk membuat laporan keuangan yang sesuai dengan PSAK.

Seperti diuangkapkan dalam COSO Framework, pengendalian intern (internal control) didefinisikan sebagai suatu proses (yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen dan pegawai perusahaan) untuk memberikan jaminan akan terwujudunya:

  • Pelaporan keuangan yang handal (reliability of financial reporting);
  • Keefektifan dan efisisensi operasional perusahaan (effectiveness and efficiency of operations); dan
  • Kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (compliance with applicable laws and regulations)

Dalam konteks audit, pengendalian intern terdiri dari 5 komponen, yang saling berubungan satu dengan lainnya, antra lain:

  • Lingkungan pengendalian
  • Pemeriksaan risiko
  • Aktivitas pengendalian
  • Informasi dan komunikasi
  • Pengawasan (monitoring)

Note: lebih detailnya, silahkan baca COSO Framework, yang baru-baru ini (per 2012) mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Karena begitu pentingnya aspek pengendalian intern, dalam proses audit, maka auditor diwajibkan untuk memperoleh pemahaman yang cukup mengenai setiap penerapan kompenen internal control tersebut, di dalam perusahaan auditee, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pemeriksaan risiko salah-saji dan penyusunan strategi audit lanjutan.

Seperti telah disampikan di atas, untuk pemahaman yang cukup mengenai hal ini, auditor tidak saja meminta “dokumen prosedur dan kebijakan”—yang biasanya mencerminkan sistim pengendalian intern perusahaan auditee, tetapi juga melakukan pengamatan (observasi) dan inspeksi di lapangan untuk melihat apakah prosedur dan kebijakan perusahaan telah dilaksanakan dengan benar dan konsisten. Dalam prose ini, auditor selalu melakukan koordinasi dan komunikasi yang diperlukan dengan pigak internal auditor perusahaan.

Hal terakhir yang dilakukan oleh auditor, dalam fase ini, adalah mengasimilasikan dan mensitesiskan pemahaman semua informasi yang mungkin mempengaruhi proses audit secara keseluruhan—terutama sekali terkait dengan wilayah-wilayah yang dianggap mengandung risiko salah saji yang bersifat metrial.

Langkah-3: Memeriksa Risiko Salah-Saji Yang Bersifat Material (Risks of Material Misstatement)

Laporan keuangan (perusahaan auditee) terdiri dari rangkaian asersi (pernyataan) manajemen sehubungan dengan laba-rugi dan posisi keuangan perusahaan, yang presentasikan dalam bentuk transaksi, saldo akun dan diskolsur.

Menggunakan pemahaman yang di peroleh di langkah pertama dan kedua, auditor melakukan pemeriksaan risiko salah-saji yang bersifat material, baik dalam tingkat asersi yang relevan maupun dalam tingkat laporan keuangan secara keseluruhan.

Risiko salah saji yang bersifat material digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:

  • Inherent Risk – Risiko salah-saji yang bersifat inherent alias tidak ada hubungannya dengan pengendalian internal; dan
  • Control Risk – Risiko yang ada hubungannya dengan efektifitas fungsi internal control (dalam hal ini, sistim pengendalian internal perusahaan auditee dianggap mengalami gagal fungsi atau minimal kurang efektif).

Untuk memastikan apakah risiko salah-saji besifat material memang ada atau tidak, konkretnya, auditor melakukan pemeriksaan terhadap: transaksi, saldo akun dan disklosur, yang dalam langkah-2 sebelumnya diperkirakan mengandung risiko salah saji yang tinggi. Untuk masing-masing asersi (transaksi, saldo akun dan disklosur), auditor mencari tahu:

  • Apa yang salah (atau tidak sesuai) di sini?
  • Bagaimana kesalahan (atau ketidaksesuaian) itu terjadi?
  • Berapa nominal/rupiah yang terlibat dalam salahan (ketidaksesuaian) itu?

Untuk setiap kesalahan (atau ketidaksesuaian) yang ditemukan—terutama yang bersifat material, seorang auditor biasanya berdiskusi dengan anggota team audit lainnya untuk mengetahui apakah anggota team lainnya menemukan kesalahan (ketidaksesuaian) yang sejenis (dengan pola/modus sejenis juga) atau tidak.

Jika iya, maka auditor biasanya mulai mencurigai adanya unsur kesengajaan di dalamnya, yang bisa saja mengarah ke tindakan fraud. Bila diperlukan (dan diminta oleh klien), maka team auditor bisa meminta bantuan team auditor khusus (yang memiliki komepetensi dan sertifikasi khusus) untuk melakukan investigasi fraud, yang biasanya dilakukan oleh Fraud Examiner (yang bertitel Certified Fraud Examiner = CFE).

Proses lain yang tak kalah pentingnya, dalam fase ini, adalah melakukan identifikasi terhadap apa yang disebut dengan “Significant Risk”, yaitu: risiko yang membutuhkan prosedur audit khusus.

Misalnya: Auditor sedang melakukan audit terhadap perusahaan kontraktor. Dalam perusahaan kontraktor, wilayah pengakuan pendapatan-dan-biaya cenderung mengandung risiko salah-saji yang tinggi. Dalam kondisi demikian, auditor bisa memutuskan bahwa wilayah pengakuan pendapatan-dan-biaya membutuhkan prosedur audit khusus.

Prosedur audit khusus yang dimaksudkan di sini yaitu,  auditor perlu:

  • Melakukan evaluasi terhadap rancangan sistim pengendalian yang mestinya bisa mencegah risiko tersebut (sering disebut “control test” saja); dan
  • Melakukan prosedur substantive (sering disebut “substantive test” saja), yang memiliki tautan jelas dengan risiko yang dimaksud.

(Catatan: kita akan bahas ini di fase berikutnya, langkah-4).

Sayang, ruang ini tidak cukup untuk menampung semua langkah yang diperlukan dalam audit. Terpaksa harus saya penggal sampai di sini dahulu. Di Bagian kedua (segera) akan saya bahas mengenai langkah berikutnya, yaitu:

  • Langkah-4: Merancang Respon Audit dan Prosedur Audit Lanjutan
  • Langkah-5: Menjalankan Posedur Audit Lanjutan
  • Langkah-6: Mengkaji Dan Memeriksa Kembali Hasil (Temuan) Audit
  • Langkah-7: Mengkomunikasikan Hasil (Temuan) Audit

Di bagian-2 nanti, saya akan lanjutkan sedikit mengenai significant risk, termasuk aspek lain yang mungkin membuat timbulnya significant risk, apa yang harus dilakukan oleh auditor dalam merespon hasil pemeriksaan risiko salah-saji yang bersifat material, bagaimana menjalankan prosedur audit lanjutan, mengevaluasi dan memeriksa kembali hasil audit, dan mengkomunikasikan hasil temuan audit. Untuk sementara, bersabar dahulu. Sampai bertemu di bagian kedua dari seri pengenalan prosedur audit ini.

Martabat Tujuh-Suatu Persoalan


Fakir yang dhoif memulakan bicara ini dengan Taufiq dan limpah kurniaNya Yang Maha Meliputi di atas segala sesuatu. Semoga pena yang tertulis terbimbing ke arah “jalan yang benar” hendaknya.

Alhamdulillah, syukrillah kerana telah diberikan suluk sedikit kelonggaran waktu ini untuk memberi sedikit pandangan berkaitan dengan bicara Martabat Tujuh dan Nur Muhammad sebagai memenuhi permintaan saudara yang berhajat.

Suluk telah membaca tulisan Prof. Dr. HM Rasjidi mengenai ilmu Martabat Tujuh dan Nur Muhamad untuk beberapa kali agar dapat difahami maksud sebenar pandangan beliau. Di samping itu suluk telah terheret sama untuk melihat beberapa bicara dan diskusi lain yang terdapat pada webpage al-ahkam on line tersebut yang banyak menyentuh tentang hal-hal yang berkaitan Tasauf termasuklah penafian mereka berkenaan dengan hulul, ittihad, wahdatul wujud dan tuduhan aliran perosak agama yang ada pada isyarat Sheikh Muhyidin Ibnu Arabi oleh Prof. Yusof Al-Qhordawi di samping kesesatan Al-Hallaj.

Insya Allah, suluk akan cuba memberikan pandangan-pandangan yang “haq” lagi sebenar kepada tuduhan-tuduhan tersebut berdasarkan dalam bicara yang khusus kerana adalah menjadi tanggungjawab suluk untuk menjernihkan kekeliruan yang terdapat pada webmaster tersebut kerana walaupun diri ini bukanlah ahli untuk hal-hal ini. Cuma sekadar diri yang telah beberapa kali mempelajari ilmu tersebut. Tujuannya pula hanyalah sekadar untuk menyatakan kebenaran dan kesuciannya, bukan untuk berhujah atau berdebat. Terpulanglah nanti kepada sesiapa yang menelitinya untuk menerima atau menolaknya tetapi sebaiknya terlebih dirujuk kepada guru-guru yang ahli dalam bidang ini sebagai penapis yang sebaik-baiknya;

“Sesungguhnya barangsiapa yang Allah tidak berikan cahaya, maka tidaklah ada cahaya baginya”. (Al-Quran)

Sebagai permulaannya biarlah suluk berikan sedikit respon berkaitan dengan tulisan Prof. Dr. HM Rasjidi mengenai ilmu Martabat Tujuh dan Nur Muhamad.

Untuk makluman saudara, memang tidak dinafikan bahawa terdapat kesalahan dan kekeliruan “orang-orang yang tidak ahli” dalam memahami idea dan maksud sebenar Ilmu Martabat Tujuh. Demikian juga hal yang berkaitan dengan Nur Muhammad, di mana bukan sahaja mereka yang hanya sekadar mengenali sesuatu itu secara zhohir sahaja keliru dan bingung dengan istilah-istiilah dan kiasan ahli sufiah ini, tetapi di kalangan pengamal-pengamal tasauf yang terpinggir juga turut terjebak dengan kekeliruan dan kebingungan ini sehinggalah menimbulkan suasana yang prejudis dan salah sangka kepada maksud dan idea sebenar Ilmu Martabat Tujuh itu. Maka bertebaranlah fitnah di atas kesucian ilmu martabat tujuh yang sebenarnya.

Oleh kerana itu, tidak hairanlah ada yang mendakwa dirinya sebagai telah mencapai kesempurnaan hakikat sehingga menggugurkan syariat dan sebaliknya ada pula yang pula yang kontradik menuduh yang bukan-bukan kepada kemurniaan ilmu ini kerana semata-mata berpandukan beberapa gelintir manusia yang sesat di samping hanya sekadar membaca kitab-kitabnya secara bersendirian dan membuat kefahaman mengikut akal mereka yang singkat tanpa penerangan dari guru yang mursyid. Renungkanlah firman Allah Taala yang bermaksud;

(Mereka tidak mahu berfikir betul) bahkan mereka (terburu-buru) mendustakan kebenaran apabila sahaja sampainya kepada mereka; oleh sebab itu, mereka berada dalam keadaan yang serba kacau.(Al-Qaf:5)

“Sesungguhnya barangsiapa yang Allah tidak berikan cahaya, maka tidaklah ada cahaya baginya”. (Al-Quran)

Ketahuilah olehmu wahai saudara-saudara seagamaku, semoga Allah memberi sedikit petunjuk dan Nur MakrifatNya bahawa “bagi tiap-tiap ilmu ada ahlinya” dan pada tiap-tiap yang zhohir itu ada yang batinnya.

Dengan kerana inilah tercatat dalam Kitab Ad-Durul Nafs bahawa Nabi SAW ada bersabda yang bermaksud;

“Tiada jua berkata satu kaum dengan kata yang tiada sampai kepadanya akal mereka itu melainkan adalah memberikan fitnah atas mereka itu’.

Demikian juga Imam Ghazali ada menjelaskan perkara ini dalam Ihya Ulummuddin dengan kata-katanya seperti berikut;

“Ditegahkan daripada menzhohirkan rahsia itu kerana pendek segala faham untuk mendapatkannya”.

Dengan kerana inilah, maka Syeikh Ibnu ‘Arabi pernah berkata;

“Adalah bagi kaum(penghulu ahli sufi) itu beberapa istilah mereka yang tiada mengetahui akan ia melainkan bagi “ahlinya”. Maka tiada harus (haram) bagi yang bukan ahlinya mentelaah segala kitab-kitab mereka kerana tiada mengetahui kehendaknya(ahli sufi). Jika diambil atas zhohir perkataan mereka itu, maka membawa kepada “KUFUR”.(Petikan Kitab Manhalus Shofi yang membicarakan martabat tujuh dan kupasan beberapa puisinya)

Dengan memahami sabda Nabi SAW. dan kata-kata mereka yang ahli dalam bidang ini; Jadi tidak hairanlah kenapa Prof. Dr. HM Rasjidi boleh berkata dan menuduh sedemikian rupa kepada Ilmu tersebut. Walaupun seorang prof….tetapi beliau bukanlah dari kalangan ahli-ahlinya sebagaimana juga Prof. Yusof. Qhodawi yang menuduh Ibnu Arabi perosak agama hanya kerana beliau jahil dan bingung dalam memahami maksud sebenar puisi-puisi yang penuh dengan isyarat-isyarat Alam Tinggi. Janganlah menjadi seperti mereka sebagaimana Firman Allah Taala yang bermaksud;

Orang-orang yang zalim itu (tidak berfikir), bahkan menurut hawa nafsu mereka (melakukan syirik) dengan tidak berdasarkan pengetahuan. Maka tiada sesiapa yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan oleh Allah (disebabkan bawaannya sendiri), dan tiada pula bagi mereka sesiapa yang dapat menolong melepaskan mereka dari azab.(Al-Rum:29)

Umpama seperti seorang nelayan biasa yang tidak memahami isyarat kod-kod(morse kod) yang kedengaran pada kapal-kapal dagang atau perang, tentu sekali akan memberi respon yang kebudak-budakkan yang tidak sempurna akal matangnya apabila sesuatu isyarat yang janggal baginya. Ahli-ahliLah apabila mengeluarkan sesuatu bicara, kalimah-kalimah mereka adalah penuh dengan hikmah dan rahsia-rahsia Alam Tinggi kerana kalam-kalam mereka adalah Kalam Ilmu Laduni yang bukan dengan datang dari khayalan atau fikiran mereka; dan untuk memahami pula, orang-orang yang pendek akal seperti kita ini memerlukan ilmu alatnya untuk menterjemahkan dan salah satu dari alat-alat tersebut ialah pengetahuan mengenai Martabat Tujuh. Firman Allah Taala yang bermaksud;

Bertanyalah (kepada mereka): “Adakah sama orang yang buta dengan orang yang celik? Tidakkah kamu mahu berfikir?”(Al-An’aam:50)

Tidak hairanlah ramai juga yang ghairah mentafsirkan dan bermain-main dengan istilah-istilah Ahli Sufi yang tinggi-tinggi atau yang halus-halus itu, sedangkan mereka mentakrifkan dan menggunakannya pada tempat yang tidak betul kerana semata-mata mengikut logik akal atau Ilmu Zhohir. Dalam bab/perkara ilmu batin syariat(Tasauf) ini, bukan pangkat atau taraf pengajian yang menjadi syarat atau ukuran seseorang untuk dijadikan petunjuk bahawa mereka itu ahlinya, tapi hal-ahwalnya yang selari dengan apa yang diucapkan di samping pengalaman keruhanian yang telah dilaluinya. Semua itu atas limpah Kurnia Allah Taala jua. Fikirkan dan renungkanlah Firman Allah Taala yang bermaksud;

Dan di bumi ada beberapa potong tanah yang berdekatan (tetapi berlainan keadaannya); dan padanya ada kebun-kebun anggur, dan jenis-jenis tanaman serta pohon-pohon tamar yang berumpun dan yang tidak berumpun; semuanya disiram dengan air yang sama; dan Kami lebihkan buah setengahnya dari setengahnya yang lain (pada bentuk, rasa, dan baunya) Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang (mahu) berfikir serta memahaminya.(Al-Rad:4)

Untuk mengenalinya dan memahami apa itu martabat tujuh dan apa dia idea-idea yang terdapat dalam Nur Muhammad seseorang itu perlulah mengaji dan menuntut dengan mereka yang ahli dengannya. Biasanya mereka(guru-guru yang ahli) tidaklah suka mewarwarkan mereka ini ahli atau megah dengan pangkat atau martabat pengajian atau maqamat sebagaimana ahli-ahli dunia yang masyhur dan berbangga dengan dr. prof dsb. Mereka ada ahlilLah dan ilmu mereka adalah tersembunyi sebagaimana tersembunyi mutiara di dasar lautan. Carilah jawapan dan dapatkan kefahaman yang sebenar dari mereka terlebih dahulu walaupun dengan seorang kampung yang berkain pelikat yang lusuh atau dari hamba abdi yang hitam.

Firman Allah dalam surah Yunus:106 bermaksud: "Mereka yang beriman dengan Allah tetapi masih banyak daripada mereka yang syirik".

Berdiskusi dan berbicara dalam tulisan-tulisan seperti di sana (al-ahkam on line)sama sekali tidak akan berupaya menjejaki kefahaman yang sebenar. Perlu mengadap secara berdepan dan perlu dihuraikan secara jelujur dengan penuh hikmah oleh guru-guru yang mursyid. Jika dinyatakan juga dalam bentuk tulisan-tulisan seperti ini, akan timbul pula pelbagai kekeliruan dan kebingungan dalam memahami idea dan maksudnya sebenarnya dan sememangnya banyak buruk dari baiknya jika diterangkan juga di sini. Ini adalah kerena masih ramai yang buta mata hatinya untuk melihat sesuatu yang batin yang datang dari Alam Ghaib apatah lagi untuk meneroka idea-idea yang terhimpun dalam sesuatu kalimah mereka. Oleh itu janganlah main ikut sedap rasa sahaja sehingga terburu-buru melemparkan tuduhan-tuduhan yang boleh menghina kedudukan mereka di sisi agama. Ambillah sedikit iktibar dan pengajaran dari al-Qur’an mengenai kisah Nabi Khaidir a.s. dan Nabi Musa a.s berkaitan dengan hal ini dalam Surah Al-Kahffi. Perhatikan ayat ini;

Dan (ingatlah) aku (Nabi Khaidir) tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau(Nabi Musa) tidak dapat bersabar mengenainya”.(Al-Kahffi:52)

Janganlah dengan kerana kedunguan pendek akal beberapa orang yang tersasar atau mereka yang terlatah kerana terlalu ghairah dengan ketinggian ilmu ini dijadikan sebagai batu pengukur bahawa itu salah, ini tak betul dan sana sesat sini kufur. Tidak akan terurai mana yang benar dan mana yang salah jika hanya dengan sedikit kajian yang mandul berdasarkan dari pendapat dan pandangan ahli-ahli zhohir, ahli-ahli falsafah dan buku-buku ulama zhohir, bicara ulama sufi (tapi masih zhohir sebenarnya) serta rumusan-rumusan dari kependekkan akal yang terbatas ini.

Tidak mungkin seorang yang belum pernah merasai lazatnya madu lebah dapat memperihalkan rasa dan wajah lazat itu dengan menghmpunkan kekuatan akalnya semata-mata. Rasalah dulu dan hayatilah dulu rasanya, barulah dapat di rasai dan difahami kelazatannya yang tidak ada istilah dan isyarat yang boleh dijadikan petunjuk untuk memaknakan erti lazat itu. Masuklah ke dalam bidang rasa, zauk dan wujdan kerana hanya dengan ini sahajalah anda akan menjejaki rahsia di sebalik kebenaran Ilmu AhlilLah ini. Bukan semata-mata dengan bacaan buku-buku atau tulisan-tulisan seperti ini , bukan dengan melemparkan tuduhan-tuduhan, bukan dengan banyaknya kajian-kajian dan penghasilan tesis-tesis. Tapi ia hanya akan dapat dicapai oleh mereka yang hidup ruhnya atau terbuka “sir”nya yang mampu untuk terbang dan meneroka Alam Makrifatullah mengikut kadar yang diizinkan oleh Allah Taala.

Firman Allah dalam Hadis Qudsi yang bermaksud;

Telah Aku memperbuatkan di dalam rongga anak Adam itu suatu mahligai dan adalah

  • di dalam mahligai itu dada(Shodron) dan
  • di dalam dada(Shodron) itu Hati dan
  • di dalam Hati itu Fuad dan
  • di dalam Fuad itu Shaghof dan
  • di dalam Shaghof itu Lubbun dan
  • di dalam Lubbun itu Sirrun dan
  • di dalam Sirrun itu Aku(yakni di dalam Sirrun itu tempat tajalli Aku dan tempat ia mengenal akan daku)

Sekiranya anda belum membaca dan menjelujuri bicara Imam Ghazali berkaitan dengan Ilmu Laduni yang mendedahkan tentang keupayaan dan potensi ruh kita yang dapat terbang ke daerah yang tiada sempadannya, suluk nasihatkan agar saudara rendahkan diri untuk mengutip mutiara-mutiara yang terhimpun dalam karyanya yang bertajuk Al-Risaalatul lilduniyyah. yang membicarkan tentang Ilmu Laduni atau Ilmu Terus Dari Allahh agar terbuka sedikit sesuatu yang terselindung sebelum ini. Mungkin juga saudara akan faham tuduhan Prof. seperti petikan di bawah adalah salah dan prejudis semata-mata.

Di antara pemikiran-pemikiran sufi yang menyimpang dari ajaran Islam adalah:
1. Menjadikan perasaan peribadi atau ilham sebagai kayu pengukur untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. untuk membezakan yang betul dan yang salah, sehinggakan sebahagian mereka ada yang secara berlebih-lebihan mengatakan: “Hatiku menceritakan padaku dari Tuhanku.” Ia merupakan tiimbal balik dari perkataan ulamak sunnah: Sifulan telah meriwayatkan kepadaku dari sifulan, dari Rasulullah s.a.w….”

Kepada mereka yang menafikan dan melemparkan berbagai-bagai tuduhan yang tidak benar mengenai fahaman Wahdatul Wujud, Hulul dan Ittihad, luangkan dan bukakan sedikit minda anda untuk menelusi huraian orang-orang Arif berkaitan perkara tersebut di bawah tajukMisykatul Anwar yang berjaya mengupas maksud ayat Al-Nur berkaitan dengan cahaya agar tersingkaplah sedikit apa-apa yang tertutup sebelum ini.

Telah berkata Sahl bin Abdulullah Al-Qusyairi r.a;

“Bagi orang Alim itu tiga ilmu.
Satu Ilmu yang Zhohir; diberikan ia bagi orang yang ahli zhohir dan
Kedua; Ilmu Batin tiada harus menzhohirkan ia melainkan kepada ahlinya dan
Ketiga; Ilmu antaranya dan antara Allah; tiada harus menzhohirkan ia kepada sesiapa pun”.

Siapalah kita jika nak dibandingkan dengan Hujjatul Islam Imam Ghazali sehingga sanggup menafikan kemuliaan Ilham dan Ilmu Laduni wali-wali Allah dan siapalah kita jika nak ditandingkan dengan ketinggian pena/lidah Sheikh Ibnu Arabi yang berjaya menghimpunkan keunikan hal-ahwal AhlilLah sehingga sanggup menuduh beliau perosak agama Allah. Ingatlah selalu kepada pesanan penghulu-penghulu tasauf sebagaimana berikut;

“Sekurang-kurang siksa orang yang mengingkari ilmu ini ialah tiada diperasakan Allah Taala akan mereka itu suatu jua pun”.

Hamba yang fakir ini, masih banyak jahilnya dan terlalu banyak melakukan dosa dan maksiat sedangkan amal sedikit cuma. Tidak hairanlah jika ada kalam yang tergelincir atau pandangan yang tersasar. Semoga Allah mengampuninya. Semoga bertambah-tambah keberkatan dan kerahmatan buat junjungan besar Nabi Muhammad SAW. guru daripada segala guru, jua untuk para sahabat dan ahli keluarga baginda, para siddiqin, para syuhada, Aulia-Aulia Allah, Guru-guru yang Arif. Mohon diberkati hendaknya tulisan ini kepada saudara-saudara yang seagama.

“Allah menukarkan malam dan siang silih berganti; sesungguhnya yang demikian mengandungi pelajaran yang mendatangkan iktibar bagi orang-orang yang celik mata hatinya berfikir.(Al-Nur:44)

Psikosomatis


Secara sederhana istilah psikosomatis bisa diartikan sebagai sebuah kondisi dimana pikiran mempengaruhi tubuh fisik.

Maka jika kita perhatikan pengaruh fikiran ini bisa positif bisa juga negatif, Bila pengaruhnya negatif, maka tubuh fisik menjadi sakit.

Gejala seseorang yang terkena penyakit psikosomatis benar-benar nyata dan dirasakan oleh penderitanya. Gejalanya mirip dengan sakit akibat faktor organik.

Contoh yang sangat sederhana, ketika Anda begitu khawatir – misalnya menghadapi suatu event yang anda tidak merasa siap , misal naik ke atas panggung -, maka tiba tiba perut anda menjadi mulas dan ingin buang buang air besar. Gejala yang sama Anda rasakan misalnya ketika anda salah makan seperti makan makanan terlalu asam dll.
Faktor Utama Penyebab Penyakit Psikosomatis

Jika kita memahami sifat dan fungsi pikiran yang salah satunya adalah bahwa pikiran bawah sadar melindungi diri kita (fisik dan pikiran sadar) menurut cara, strategi, mekanisme atau logikanya sendiri,

Maka kita bisa memahami bahwa gejala tubuh fisik yang diakibatkan dari pikiran pada prinsipnya adalah merupakan response dari proses dari pikiran bawah sadar yang sedang berusaha “melindungi”.

Seorang yang tertekan akibat masalah keuangan keluarga dan tekanan hidup yang sangat besar kemudian menjadi sakit, bisa kita pahami sebagai upaya agar dia terlepas dari peran untuk menanggung beban tersebut. Jika sakit, maka orang bisa memakluminya. Tentu saja semuanya bekerja dalam tataran pikiran bawah sadar.

Yang baru saya paparkan adalah salah satu dari penyebab penyakit psikosomatis. Menurut Adi W. Gunawan dalam buku MindBody Medicine, ada 15 faktor utama penyebab penyakit psikosomatis:
Motivasi
Memory Sakit
Konflik
Imprint
Sugesti Diri
Identifikasi
Pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan
Masalah saat ini yang belum terselesaikan
Organ language
Menghukum diri sendiri
Ego state
Identofact
Alter
Mimpi
Stress
Hipnoterapi Untuk Penyakit Psikosomatis

Teknik hipnoterapi yang digabungkan dengan teknik EFT atau Emotional Freedom Technique merupakan teknik penyembuhan penyakit psikosomatis yang telah dirasakan sangat efektif.

Hipnoterapi dan EFT atau Hypno-EFT ini selain untuk menyembuhkan penyakit psikosomatis, juga sangat ampuh dalam mengatasi kebiasaan buruk, seperti suka menunda-nunda, kecanduan rokok, makan berlebihan dll.


hipnoterapi eft tapping point

Demikian informasi yang dapat kami sajikan, di blog ini. Apabila ada saran dan kritik dapat di sampaikan ke blog ini

Gangguan Mental


Gangguan Mental sering di antara kita mendengar mengenai istilah ini, namun apakah ini? Secara definisi sesuatu ketidakstabilan emosi yang di alami sehingga menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas dari fungsi organ tubuh. Berikut jenis penyakit gangguan mental yang banyak di derita :

1. Gangguan Pribadi Yang Antisosial (Antisocial Personality Disorder)

10 Macam Gangguan Mental [ www.BlogApaAja.com ]

Mitos: Seseorang yang menghindari interaksi sosial adalah “antisosial”.Hal ini sebagian besar adalah kesalahan semantik, dan karenanya ini saya taruh di tempat kesepuluh.

Banyak orang menyebut seseorang yang enggan untuk berpartisipasi dalam situasi sosial sebagai “antisosial”. Bahkan, orang-orang ini sering terlibat sebagai pro-sosial, bahkan luar biasa begitu.

Antisosial Personality Disorder didiagnosis pada orang dewasa yang secara konsisten mengabaikan hak orang lain dengan berperilaku keras, berbohong, mencuri, atau secara umum bertindak sembarangan tanpa mempertimbangkan keselamatan diri sendiri atau orang lain.

Mereka sering ekstrover dan ini adalah sangat berbalik keadaan dengan tipe orang yang begitu sering disebut “antisosial”, yang biasanya sangat peduli tentang perasaan orang lain.

Orang-orang Antisosial biasanya hanya pemalu atau memiliki beberapa bentuk autisme, depresi, gangguan kecemasan sosial, atau gangguan kepribadian avoidant (AvPD).

AvPD, yang didiagnosis pada orang yang menghindari interaksi sosial karena rasa takut yang intens untuk ditolak, mungkin bagian dari alasan untuk kebingungan ini.

Kedua gangguan kepribadian, setelah semua, memiliki nama yang sangat mirip, namun keduanya adalah hal yang sangat berbeda.

2. Multiple Personality Disorder (Kepribadian ganda)

10 Macam Gangguan Mental [ www.BlogApaAja.com ]

Mitos: Orang dengan Dissociative Identity Disorde secara radikal mengubah perilaku mereka dan kehilangan memori mereka tentang apa yang baru saja terjadi ketika mereka beralih kepribadian.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa DID itu sendiri adalah mitos, karena itu, curiga, jauh lebih sering didiagnosis di Amerika Utara daripada di tempat lain, tapi mari kita asumsikan untuk hari ini tidak ada.

Orang dengan DID memiliki dua sampai lebih dari seratus kepribadian yang berbeda yang secara bergantian mengambil alih tubuh mereka.

Kepribadian alternatif ini(“mengubah”) biasanya, namun tidak selalu, terbentuk karena trauma masa kecil.

Perubahan tidak selalu menyebabkan perubahan besar, perubahan terlihat dalam penampilan atau perilaku, sehingga pengamat bahkan mungkin tidak menyadari keberadaan mereka. Banyak orang dengan DID (“multiples”) menyadari bahwa berbagai perubahan itu ada dan tahu siapa orang-orang yang, bahkan sebelum terapi, yang tidak akan bekerja dengan baik jika mereka tidak memiliki pergantian memori .

Adalah mungkin bahwa salah satu kepribadian tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang terjadi sementara salah satu kepribadian telah bertanggung jawab, menyebabkan rasa amnesia, tetapi mereka mungkin sepenuhnya menyadari apa yang terjadi dan tidak secara aktif terlibat.

Kelompok perubahan biasanya dapat berkomunikasi ke beberapa tingkat, dan bahkan mungkin bekerja sama untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka mempunyaibanyak perubahan kepribadian.

Beberapa penderita multiples ini memilih untuk tidak melakukan terapi untuk memilih salah satu kepribadian dan menghentikan peralihan kepribadian, karena mereka merasa hidup selaras dengan beberapa kepribaian sebagai sebuah tim yang saling melengkapi

3. Dyslexia

10 Macam Gangguan Mental [ www.BlogApaAja.com ]

Mitos: Semua orang dengan kelainan disleksia tidak dapat membaca karena mereka melihat huruf dalam urutan yang salah.

Ini sebenarnya adalah dua mitos dalam satu, namun tetap hanya dua dari banyak mitos tentang disleksia.

Yang pertama adalah bahwa orang disleksia tidak dapat membaca.

Sebenarnya, kebanyakan dari mereka belajar membaca, tetapi jika mereka tidak mendapatkan bantuan yang tepat, mereka sering belajar perlahan-lahan dan tetap di bawah tingkat kelas mereka pada kecepatan juga pemahaman.

Tetapi bahkan itu tidak selalu benar: anak disleksia banyak mencari cara untuk menutupi kesulitan membaca mereka sampai kelas tiga atau empat atau bahkan lebih lama. Dan jika mereka diajarkan oleh seseorang yang mengerti disleksia, mereka dapat belajar membaca dengan baik.

Sisi lain mitos ini adalah bahwa masalah dyslexics mengalami masalah dengan membaca karena mereka melihat kata-kata sepeti mundur atau rusak. Hal ini dapat tampaknya terjadi karena, dalam kebingungan mereka sementara mereka mencoba untuk mencari tahu sebuah kata, mereka mencampur huruf atau suara, dan beberapa orang disleksia bingung kiri dan kanan atau memiliki banyak masalah dengan ejaan.

Namun, ini bukan penyebab masalah mereka. Disleksia jauh lebih harus dibantu dengan cara berpikir dengan unik dari masalah dengan pengolahan informasi visual.

4. Schizophrenia

10 Macam Gangguan Mental [ www.BlogApaAja.com ]

Mitos: orang Schizophrenic mendengar suara di kepala mereka.

Kita semua tahu tentang skizofrenia, dan kami semua membaca lelucon tentang “suara-suara di kepala saya”. Tapi, bertentangan dengan apa yang banyak orang percaya, tidak semua orang dengan skizofrenia mendengar suara di kepala mereka.

halusinasi auditori sangat umum pada orang skizofrenia, tetapi mereka lebih cenderung mendengar suara-suara yang datang dari beberapa objek luar tubuh mereka daripada di dalam pikiran mereka. Plus, tidak semua orang dengan skizofrenia mengalami gejala yang sama.

Mereka mungkin mengalami halusinasi (benar-benar melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada), delusi (percaya ide realistis), pikiran teratur, kurangnya mempengaruhi (tidak ada tampilan emosi), atau, dalam skizofrenia katatonik, bahkan kurangnya keinginan untuk pindah sama sekali.

Skizofrenia adalah gangguan rumit dengan berbagai gejala yang mungkin. (Catatan : bahwa kepribadian alternatif bukan salah satu gejala )

5. Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorders )

10 Macam Gangguan Mental [ www.BlogApaAja.com ]

Mitos: Autisme adalah gangguan menghancurkan yang akan menghentikan Kemampuan seseorang sehingga mampu berfungsi dalam masyarakat.

Ada banyak mitos dan bahkan lebih potensial / mitos diperdebatkan tentang autisme, tapi ini tampaknya menjadi salah satu yang paling umum.

Banyak orang mendengar “autisme” dan membayangkan anak-anak yang secara permanen di dunia mereka sendiri di mana mereka tidak dapat berbicara atau berinteraksi dengan orang lain, yang membuat ulah tanpa alasan yang jelas, dan yang tidak akan pernah menjadi bagian dari masyarakat normal.

Namun, autisme disebut gangguan spektrum untuk alasan: anak autistik berkisar dari orang-orang yang tidak dapat berkomunikasi dengan cara apapun dengan orang lain, semua cara untuk orang yang hidup biasa, hidup yang produktif dan hanya tampak sedikit eksentrik bagi kita semua.

autisme parah bukan kelainan seumur hidup,. Bahkan gangguan sangat rendah autistik dapat menjadikan anak menjalani hidup yang sangat bahagia.

Ada juga cerita dari gangguan rendah autistik meningkatkan anak-anak autis dengan terapi dan hampir seluruhnya pulih dari masalah autisme yang berhubungan dengan mereka, dan banyak orang dan organisasi yang mencari obat untuk autisme.

Sayangnya, organisasi-organisasi mendorong untuk penyembuhan biasanya berdasar pada mitos ini khususnya dengan hanya memfokuskan pada isu-isu yang berkaitan dengan autisme tingkat rendah, dan hampir seluruhnya mengabaikan keberadaan autisme tingkat tinggi dan orang-orang autis yang tidak akan pernah ingin menjadi ” sembuh “.

6. Attention Deficit Hyperactivity Disorder

10 Macam Gangguan Mental [ www.BlogApaAja.com ]

Mitos: Orang dengan ADHD tidak memperhatikan apa-apa.

ADHD adalah gangguan yang telah menjadi cukup terkenal dalam beberapa tahun terakhir, jadi aku yakin anda semua tahu apa itu. Bagi anda yang tidak yakin, orang dengan ADHD mengalami kesulitan berkonsentrasi pada tugas dan dapat hiperaktif atau impulsif. Tapi itu tidak benar, karena kadang-kadang tampaknya, bahwa orang dengan ADHD tidak bisa merespon perhatian.

Banyak dari mereka bisa mengimbangi perhatian pada sesuatu yang mereka anggap benar-benar menarik, dengan cara yang sama kita semua jauh lebih bersedia menjadi terganggu dari tugas membosankan daripada yang menyenangkan. Dan, pada kenyataannya, beberapa orang mengalami kesulitan fokus karena mereka benar-benar terlalu banyak merespon perhatian.

Mereka berpikir pada semua sisi, suara, dan bau di sekitar mereka, dan bukan hanya apa yang ada di tangan mereka.

Demikian informasi yang dapat di bagi untuk saat ini, kami tunggu saran untuk membangun blog ini