Hubungan Ilmu Ahlak


Banyak definisi yang ditawarkan untuk ilmu Akhlak. Sebagian ulama menekankan unsur pengetahuan, dan menyatakan bahwa ilmu Akhlak adalah pengenalan terhadap kemulaiaan akhlak dan kebejatannya. Muhaqqiq Thusi mengatakan bahwa ilmu Akhlak yaitu pengetahuan tentang bagaimana jiwa manusia menyandang suatu karakter yang memuliakan seluruh tindakan yang dilakukan atas dasar kehendak. Definisi serupa dibawakan oleh seorang pemikir Barat. Dengan merujuk pada asal kata Latinnya, ia merumuskan bahwa ilmum akhlak adalah pengetahuan tentang tradisi, adat istiadat dan sifat-sifat manusiawi.

Adapula sebagian definisi yang menekankan tindakan, bahwa ilmu akhlak yaitu telah atas prilaku manusia sebagaimana mestinya. Di sini ilmu akhlak berfungsi sebagai sarana untuk menyempurnakan perilaku manusia dan menyodorkan kebaikan. Definisi “pengetahuan tentang bagaimana hidup dan bagaimana seharusnya hidup”, lebih menekankan aspek praktis ketimbang aspek kognitif ilmu akhlak.

Secara lebih komprehensif, ilmu akhlak bisa didefinisikan sebagai pengetahuan tentang macam-macam sifat baik dan buruk, cara menyandang sifat baik dan membersihkan sifat buruk. Subjek ilmu akhlak yaitu sifat-sifat baik dan buruk yang berkaitan dengan tindakan sengaja manusia, dan yang bisa diperoleh atau dihindari. Selain pengenalan atas berbagai macam kemualiaan dan kebejatan akhlak, ilmu akhlak juga membahas metode-metode menemukan sifat baik dan membersihkan sifat buruk. Naraqi menyimpulkan bahwa ilmu akhlak yaitu pengetahuan tentang sifat-sifat baik dan buruk dan tentang cara mendapatkan sifat baik serta membebaskan diri dari sifat buruk.

STUDI-STUDI AKHLAK

Sedikitnya ada tiga macam studi tentang akhlak. Pengenalan tentang batasan-batasan dan ruang lingkup masing-masing studi itu, akan banyak membantu menjelaskan Filasafat Akhlak dan isu-isunya.

1. Akhlak Deskriptif (ethics descriptive)

Akhlah Deskriptif yaitu studi tentang akhlak yang berlaku pada setiap kelompok atau masyarakat. Akhlak Deskriptif menjelaskan prinsip-prinsip moral yang dianut oleh sesorang, suatu komunitas atau suatu agama. Metode penelitian Akhlak Deskriptif adalah empirik dan tektual, bukan referensi rasional. Studi ini hanya dimaksudkan untuk mengenali ragam prilaku moral sesorang atau suatu komunitas. Di dalamnya tidak ada penekanan persuasif, preskriptif atas seseorang untuk berprilaku atau menahan diri berdasarkan laporan-laporan dan data-datanya. Pada dasarnya, Akhlak Deskriptif tidak membahas benar salahnya norma-norma, nilai-nilai dan hkum-hukum moral. Studi ini umumnya dilakukan oleh ahli-ahli Psikologi, Sosiologi, Antropologi dan Sejarah.

Penelitian-penelitian atas tingkah laku masyarakat Eskimo, prilaku etnis-etnis di pedalaman Afrika dan Australia serta penganut-penganut berbagai agama, masuk dalam studi Akhlak Deskriptif. “Memakan daging orang tua yang telah meninggal adalah baik bagi Kalatinian”, “Membunuh orang yang lanjut usia adalah baik bagi kaum Eskimo”, “Mengubur anak perempuan hidup-hidup adalah kehormatan di kalangan Arab jahiliyah”, atau “Meminum minuman keras adalah kebejatan dalam agama Islam”, adalah sebagian contoh kesimpulan-keimpulan studi Akhlak Deskriptif.

2. Akhlak Normatif
Akhlak Normatif yaitu studi tentang prinsip-prinsip, dasar-dasar dan metode-metode untuk menginterpretasikan konsep, arti dan esensi kebaikan, keburukan, kebenaran, kesalahan, harus, tidak boleh, dan konsep-konsep semacamnya. Studi ini terfokus pada tindakan-tindakan sengaja manusia dari aspek kebaikan dan keburukannya, harus dan tidak bolehnya, tanpa ada kaitannya dengan pandangan seseorang, suatu maysarakat atau agama tertentu tentang tindakan-tindakan tersebut. Dengan kata lain, subjek Akhlak Normatif bukan lagi agama atau etnis/masyarakat, tetapi tindakan sengaja manusia. Oleh karena ityu, Akhlak normatif disebut juga dengan Akhlak tingkat pertama (first order ethics) . Metodologi yang digunakan didalamnya adalah inferensi rasional, bukan empirik dan tekstual.

Secara umum, Akhlak Normatif membahas dua topik besar:

A. Justifikasi dan eksplanasi rasional atas hukum-hukum universal dan nilai-nilai absolut moral, seperti baik atau harusnya keadilan, buruk atau tidak bolehnya kedzaliman.

B. merumuskan teori untuk menjelaskan kebaikan dan keharusan suatu tindakan. Misalnya, dalam sebuah aliran akhlak ditegaskan bahwa “Keadilan adalah baik” atau “harus berbuat adil”. Di sini, Akhlak normatif berusaha menemukan suatu norma sekaligus argumentasi yang mendasari dua hukum moral itu. Dalam pada itu, muncul sejumlah persoalan yang harus dituntaskan di dalam Akhlak Normatif, seperti; apakah sebab benarnya tindakan yang benar? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa tindakan itu adalah benar? Mengapa harus berprilaku baik?

Banyak teori yang bermunculan di sepanjang penelitian moral manusia, seiring dengan beragamnya upaya menuntaskan persoalan-persoalan tersebut, mulai dari teori Ethical Egoism, teori General Utilitarianism, teori Kehendak Tuhan (Divine Commond Theory), hingga Perfeksionisme.

3. Metaakhlak (Meta Ethics)

Metaakhlak dikenal juga dengan istilah Akhlak Analitik (Analytical Ethics). Metaakhlak yaitu studi filosofis atas statemen-statemen moral. Subjek studi ini bukan prilaku dan kebiasaan yang berlaku di tengah suatu suku atau kaum agamis, juga bukan tindakan sengaja/pilihan manusia, tetapi kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam Akhlak Normatif. Oleh karena itu, Metaakhlak disebut juga dengan akhlak tingkat dua (second-order ethics).

Seorang peneliti metaakhlak akan bersikap netral dalam mengkaji suatu statemen moral. Baginya, “Aborsi itu bejat’ dan “aborsi itu baik” adalah dua statemen moral yang tidak berbeda. Pengamatannya atas statemen-statemen itu hanya terfokus pada konsep baik dan bejat yang termuat di dalamnya.

Istilah Metaakhlak, menurut sebagai pemikir akhlak, untuk pertama kalinya diperkenalkan di awal abad 20 oleh Neopositifisme dan sebagian tokoh-tokoh Marxisme, sehingga studi ini memisahkan diri secara lebih independen dan utuh dari Akhlak normatif. Tentu, ada pula karya-karya dari filsuf-filsuf sebelum mereka yang memuat sejumlah persoalan-persoalan meta akhlak.

Dalam mengukur jangkauan dan ruang lingkup studi Metaakhlak, statemen dan hukum akhlak yang dibahas di dalamnya bisa dicermati, paling tidak, dari tiga aspek:

1. Aspek Semantik

Dari aspek semantik, Meta akhlak akan mempelajari konsep-konsep yang membentuk statemen dan hukum moral, khususnya konsep-konsep yang mengambil posisi sebagai predikat di dalamnya, seperti konsep baik, buruk, harus, tidak boleh, benar, salah. Adapun subjek-subjek statemen moral, pada umumnya berupa konsep-konsep yang jelas dan aksiomatis, seperti konsep aborsi, kejujuran, bohong, membunuh. Kalaupun, secara konseptual, subjek statemen-statemen itu tidak jelas dan masih perlu pendefinisian, maka meta akhlak akan menganalisisnya dari aspek semantik, seperti analisis seputar arti keadilan dan kedzaliman. Di samping itu, Meta akhlak juga membahas semua konsep-konsep yang terdapat dalam postulat-postulat statemen moral, seperti konsep kekebasan, kepemilihan, motifasi, maksud, atau semua konsep yang muncul sebagai implikasi dari statemen-statemen tersebut, seperti konsep bahagia, puas, nikmat, senang, sempurna, untung, sukses, dan semacamnya.

2. Aspek Epistemologis

Dari aspek epistemologis, meta akhlak berurusan dengan persoalan-persoalan seperti deklaratifitas dan imperatifitas statemen moral, absolusitas dan relatifitas hukum moral, posisi dan peran akal serta inferensi induktif dalam studi-studi moral. Meta akhlak nmembahas seluruh persoalan tersebut berdasarkan metodologi falsafi dan rasional.

3. Aspek Logis

Dari aspek logis, Meta Akhlak bersingungan dengan persolan-persoalan serius seperti: apakah “harus”. sebagai sebuah konsep moral dan aksiologis, bisa dibetot dari “adalah” sebagai konsep ontologis? Apakah mungkin statemen-statemen moral bisa disimpulkan dari statemen-statemen non-moral? Secara umum, apakah relasi antara realitas dan nilai? Dan, apakah relasi di antara statemen-statemen moral itu sendiri?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s